Daun yang jatuh di tanah tidak terdengar suaranya ,seperti aku yang jatuh cinta kepadamu tanpa menyuarakannya @suparmaaan

Senin, 11 November 2013

Kewajiban setelah bermimpi



Saat terlahir di dunia,kita sebagai manusia tidak bisa memilih akan terlahir dimana?,pada keturunan siapa?,dan juga tidak mengetahui apa nanti yang akan kita kerjakan selama di dunia.

Di alam penuh kedamaian yang nyaman dalam pelukan Tuhan,tiba-tiba kita di wajibkan hadir ke alam bernama bumi.Tentunya kita tidak akan bisa menolak kehendak Tuhan.Tuhan meniupkan kita ke rahim seorang wanita yang akan kita panggil dengan sebutan Ibu,Ibu adalah manusia yang paling mulia,menanggung beban kesakitan untuk melahirkan kita ke bumi dengan harap kelak anaknya menjadi manusia yang berbakti dan juga beriman.Kita manusia lahir dengan tangis,bukan berarti tangisan menjadi kewajiban saat harap tak terwujudkan dalam jejak langkah selama di kehidupan.

Saya dilahirkan dari seorang Ibu yang tidak pernah mengeluh saat cobaan menghampiri,hatinya selalu tangguh dalam cobaan.Ia adalah motivator terbesar hidup saya,cinta abadi,sekaligus tempat menumpahkan curahan hati yang menjanjikan kenyamanan.Dulu saya pernah bertanya pada Ibu,”kenapa ia tidak terperosok jatuh ketika dilanda cobaan”,beliau berkata “Jika kemuliaanmu telah berlalu,takkan lagi penyesalan mengembalikannya.Terima dan hadapi cobaanmu.” Lalu saya bertanya kembali "Jika tujuan yang ingin kita capai tidak berhasil tercapai,bolehkah mengeluh?” Ibu menjawab “Boleh,mengeluhlah pada dirimu sendiri dan temukan pelajaran apa yang di dapat dari kegagalan,karena itu akan menjadi patokkanmu bertindak di tujuan lainnya.Cobalah bayangkan kemungkinan terpahit saat kamu mempunyai tujuan,agar kamu siap menerima dan dapat mencari jalan terbaik sebelum kepahitan datang.”

Hobi saya adalah menulis tinta impian ke dalam sebuah buku catatan dream book .Semua impian yang saya tuliskan menjadi harapan untuk mencapai kenyataan.Impian yang terkadang sering di ejek teman dan siapapun yang membacanya kecuali keluarga saya terutama Ibu.Ibu selalu berkata “Jangan cuman di tulis aja impiannya,perjuangkan juga biar jadi nyata.” Saya hanya sering tersenyum jika mendengar nasehat ibu,sejujurnya belum ada satupun tindakan yang saya lakukan untuk mengwujudkan mimpi-mimpi itu.Salah satu mimpi saya yaitu bisa kuliah di UI ,saya bukan siswa yang pintar, bahkan saya jarang sekali membaca atau mempelajari buku materi pelajaran sekolah,saya lebih menyukai membaca novel dan buku-buku sastra.Waktu kelas X SMA saya mempunyai kebiasaan unik yaitu sering mempelajari buku SNMPTN,padahal waktu itu teman-teman sekelas saya belum kepikiran untuk mempelajari buku itu.Yang ada dalam pikiran saya waktu itu hanya mencoba berusaha membuka jalan mimpi ke dunia nyata seperti nasehat Ibu.

Ayah saya hanya seorang PNS biasa di Provinsi kecil daerah Sumatera,gajinya sekitar 2 jutaan rupiah.Hidup keluarga saya cukup nyaman ketika saya SMP hingga saya menginjak kelas X SMA.Ayah yang hanya pegawai biasa di percaya untuk menjadi bendahara.Namun petaka keluarga muncul saat saya kelas XI SMA,ayah terkena evaluasi tim keuangan dari kantor pusat,menurut cerita yang saya dapatkan dari teman kantor ayah yang berkunjung ke rumah,bahwa ada ratusan juta kejanggalan dalam laporan keuangan kantor.Ayah saya mengakui memang benar,tapi semua itu atas persetujuan kepala kantor.Berbagai penjelasan ayah terasa sia-sia di hadapan mereka,keluarga saya di wajibkan menganti semua kekurangan kas itu,jika tidak diganti ayah akan dilaporkan ke pihak berwajib.Miris sekali,padahal ayah hanya menikmati 5% dari kecurangan kas itu,20% sebagai pelancar untuk kecurangan kas, dan sisanya 75% kepala kantor yang menikmati.Kepala kantor ayah lepas tangan dari kasus ini dengan argumen “Jika semua itu kelakuan bendahara ,dan sebagai kepala kantor ia hanya di manfaatkan wewenangnya oleh bendahara.” Banyak fakta yang di putar balikan karena kewenangan kepala kantor lebih besar,apalagi dia juga mempunyai kerabat di kantor pusat yang memegang jabatan pendukung agar bisa lepas dari kaitan kasus tersebut.Akhirnya ayah mengganti semua kejanggalan kas kantor yang bernilai ratusan juta rupiah dengan cara meminjam uang di bank dalam jangka waktu pemotongan gaji selama 8 tahun,lalu ayah juga menjual rumah kediaman kami.Setelah rumah kami terjual,keluarga saya menempati rumah dinas yang hanya memiliki satu kamar padahal keluarga kami mempunyai 6 anggota keluarga

Ayah yang biasanya mengendarai motor ketika berangkat menuju kantor,saat itu harus naik angkutan umum karena motor telah di jual.Saya dan adik saya yang biasanya di antar ayah berangkat dan pulang sekolah,saat itu harus naik angkutan umum juga dan terkadang kami jalan kaki.Dalam keterpurukan keluarga,saya mulai berpikir tentang kelanjutan sekolah saya,tidak enak rasanya harus membebani orangtua di dalam keterpurukan yang sedang kami jalani saat itu.Gaji ayah hanya sekitar 400 ribuan setelah dipotong bank,ditambah uang makan setiap bulan 300 ribu.Ayah tidak pernah membeli makan siang di kantor karena selalu membawa makanan dari rumah,Ayah juga puasa di hari senin dan kamis.Saya juga mengikuti jejak ayah puasa dan membawa bekal.Untuk menambah penghasilan,ibu menjadi juru masak di katering milik tetangga dengan upah 350 ribu,sedangkan saya membantu pemilik katering pergi ke pasar setiap pagi.Orang tua saya sering melarang saya untuk ikut bekerja juga,tapi saya memaksa mereka agar memberi izin.Uang hasil bantu-bantu pemilik katering saya tabung sebagai modal melanjutkan perkuliahan.Semenjaak SMA saya sering mengirim CERPEN ke beberapa majalah remaja,hasil honornya yang lumayan juga saya tabung.Ayah dan Ibu tidak mengeluh tentang perjalanan hidup keluarga kami,justru mereka menganggap ini akibat dari kecerobohan dan kekhilafan akan nikmat dunia yang pernah ditawarkan,mereka menganggap ini sebagai pelajaran hidup.

Mimpi adalah hak bagi semua orang yang ingin bermimpi dan mengwujudkan mimpi menjadi nyata adalah kewajiban bagi orang yang telah bermimpi.Jadi saya harus mengwujudkan mimpi karena saya telah berani bermimpi.

Saya lebih giat mempelajari soal-soal SNMPTN.Terkadang saya iri dengan teman-teman sekolah yang bisa les disana-sini,namun rasa iri saya hanya sekilas menempel dipikiran karena saya akan mempertunjukan cara saya mengwujudkan mimpi.Akhirnya salah satu mimpi yang tercatat di dream book terwujud ,saya diterima di UI Fakultas Hukum dari jalur SNMPTN yang menurut siswa-siswi mempunyai passing grade tinggi.Pembayaran uang masuk UI di dapat dari orang tua dan tabungan saya.Tanpa saya ketahui ternyata ibu dan ayah sering menabung untuk membiayai kuliah saya di tengah keterbatasan penghasilan mereka.Selama kuliah saya berjanji dengan diri saya sendiri untuk tidak manja dan membebani orang tua.Waktu di awal perkuliahan saya mencari penghasilan dengan bekerja sebagai penjaga WARNET part malam,nilai plus selama menjadi penjagaWARNET saya bisa menghidupi diri saya dan mengerjai tugas kuliah secara gratis karena waktu itu belum mempunyai laptop.Setelah dua semester menjalani perkuliahan, beasiswa mulai mengalir hingga saya bisa kuliah tanpa biaya .Saya juga bisa berkunjung kebeberapa daerah di Indonesia dan luar negeri berkat berbagai lomba dan program .Sekarang sambil kuliah di semester akhir saya bekerja menjadi tim kreatif salah satu EO di Jakarta,staf promosi penerbit buku,kreator beberapa akun twitter yang cukup terkenal,hingga menulis kolom opini di berbagai media cetak.

2 komentar:

  1. Mari wujudkan mimpi masing-masing ! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk, mas broh GFC dimana, gak ada ya? mau folback blognya nih.

      Hapus