Daun yang jatuh di tanah tidak terdengar suaranya ,seperti aku yang jatuh cinta kepadamu tanpa menyuarakannya @suparmaaan

Kamis, 18 Juni 2015

Pacarku Kuntilanak



Dalam sunyi malam di kegelapan,aku terhanyut dalam buaian sepi sendiri tak merasakan dingin malam yang siap menghujam badan.Bagiku desau angin berdesir lirih yang mengiringi nyanyian nyamuk disekitar telinggaku adalah kebahagiaan sekaligus ketenangan.Namaku Geri.Aku adalah seorang pelajar kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Bengkulu.Bengkulu memang bukan kota yang terkenal di Indonesia namun keluargaku harus tinggal disini demi urusan pekerjaan mereka.Hari-hari berlalu tanpa permisi,aku sangat sering di-bully oleh teman-teman sekolah.Aku memang berbeda tak seperti  remaja pria pada umumnya,diri ini selalu takut dan pasrah saat di bully  oleh mereka,seakan tubuh rapuh tak bergeming menerima perlakuan mereka menjahili diriku.Mulut selalu diam tak mampu mengurai kata untuk melakukan perlawanan.

Aku tidak pernah mengadu atas cara teman-teman memperlakukanku,karena aku tau orang tuaku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka hingga jarang pulang kerumah sedangkan pembantu dirumah juga sama sekali tidak akan memperdulikanku,ia hanya peduli saat kedua orang tuaku ada dirumah.Sudah beberapa hari ini aku selalu menghabiskan separuh malamku dengan menyendiri di pinggir Danau DTS (dendam tak sudah).Danau ini dikelilingi perpohonan serta tanaman-tanaman yang lumayan indah.Tanpa pernah kupaksakan entah kenapa kaki ini  setelah ganti pakaian sepulang sekolah akan mengayuh sepeda. Ketika waktu menunjukan pukul 19.00 aku berangkat menuju pinggiran danau ,menikmati ketenangan air,menatap bulan yang sedang bercermin di danau dan mendengarkan paduan suara angin.Inilah bahagiaku!,bahagia itu letaknya dihati terbebas dari opini.Aku sering berlama-lama disini kadang juga menertawai diri sendiri.

Banyak warga Bengkulu bilang danau DTS (dendam tak sudah) angker dan sering ada penampakan yang menyeramkan.Ahh!!..,Jujur aku tidak peduli dengan semua hal itu sebab hanya disini aku bisa melepaskan beban, melupakan segala kejahilan teman disekolah dan ketidakpedulian orang tuaku.Aku merasa aman dan nyaman disini tanpa pernah bertemu dengan sosok hantu seperti yang diceritakan para warga. Sejujurnya juga ada perasaan penasaran yang bergejolak dihati,entah kenapa aku merasakan seperti ada sepasang mata memperhatikanku,sering terdengar sayup-sayup tawa kecil perempuan,meski aku tidak begitu yakin dari mana arah suara itu.Aku selalu duduk diatas batu yang cukup besar dipinggir danau.Sering kali aku melempar batu kecil ke danau untuk melepaskan emosi namun setiap lemparan batu yang kulempar selalu disusul oleh lemparan batu lain yang sama sekali tidakku ketahui asalnya darimana.

Aku tidak sendiri disini!.
*****
            
 “Ger tadi aku dipesan Ibu Rita ,kalau hari ini kamu mendapat giliran membersihkan gudang sepulang sekolah” kata Satrio,temanku yang sangat sering menjahiliku di sekolah.
             
             Aku hanya diam tak merespon Satrio.Perasaanku berkata ini hanya bualan yang diciptakan Satrio untuk menjahili diriku,tapi apa daya aku tak bisa menghindar karena semua teman dikelas seperti berkonspirasi membenarkan pernyataan Satrio.

Sepulang sekolah pukul 15.00 aku langsung pergi kegudang belakang sekolah meninggalkan tas dikelas.Lorong menuju gudang belakang sekolah sangat sepi,hingga membuat suara langkahku cukup keras terdengar.Saat sedang berjalan tiba-tiba aku mendengar suara langkah lain selain suara langkah kakiku.Suara langkah itu tepat dibelakangku,seperti mengikuti aku dari belakang.Aku langsung berhenti dan menoleh ke belakang.Tidak ada siapa-siapa.Aku kembali meneruskan langkah ,namun suara langkah kaki itu terdengar lagi tepat di belakangku.Aku menoleh ke belakang namun lagi-lagi tidak seorangpun di belakangku.Saat itu aku sudah mulai merasa aneh,aku kembali melangkah dengan langkah yang lebih cepat menuju gudang belakang sekolah.

Setelah sampai di gudang dengan sigap aku membersihkan isi gudang yang terlihat kotor karena tak terurus itu.Tiba-tiba terdengar suara pintu gudang tertutup cepat disertai suara alunan pintu yang terkunci.Ahh..Benar dugaanku kalau Satrio akan menjahiliku.Ku gedor-gedor pintu sambil berteriak “Tolong..Aku terkunci,tolong aku!!” Tak seorang pun yang mendengar tangis lirih dan teriakku.Kusandarkan perlahan badan ini di muka pintu sambil tetap berharap ada yang membantu.Harapan pun telah lelah hanya pasrah yang membelenggu.

Jam ditanganku menunjukkan pukul 21.15,sudah lebih dari 6 jam aku terkurung digudang,Gelap telah naik pitam hanya titik-titik cahaya membelai masuk dari celah pintu.Kucoba kembali membuka pintu gudang ,gangang pintunya terasa sangat dingin di tangan,seakan hawa dingin malam sudah diresap oleh gangang besi itu.Saat sedang fokus berusaha membuka pintu terdengar suara langkah kaki yang mendekat diiringi alunan musik jawa semakin bertambahnya detik semakin dekat langkah itu.Pintu gudang pun terbuka perlahan diikuti masuknya cahaya ke gudang secara rebutan.Aku kaget melihat ada  sesosok pria berdiri didepan pintu,jantung terasa berhenti berdetak.Aku mulai membayangkan sosok pria yang berdiri didepan pintu itu hantu pria yang sudah hancur,dengan bagian mata dan pipi yang remuk hingga darah membasahi kain putih yang dikenakannya serta lagu jawa mengiringi derap langkah.

”Jangan ganggu aku,maaf jangan ganggu” teriakku memohon setelah membayangkan sosok didepan pintu gudang itu.

Aku baru sadar saat sosok itu mendekat ternyata adalah pak Tarno  dengan suara handphonenya yang memutar lagu jawa,ia satpam sekolahku.Uhh nafasku mulai kuatur .Padahal tadi aku sempat membayangkan sosok yang menakutkan berada didepan gudang.

“Mas Geri ini saya pak Tarno ,tadi waktu saya memeriksa kelas, bapak melihat masih ada tasmu, jadi takut terjadi apa-apa denganmu mangkanya bapak kelilingi sekolah mencari tau”

“Makasih banyak pak” Jawabku singkat dengan sedikit lirih.Pak Tarno adalah satpam sekolahku sekaligus masih saudara dengan pembantuku dirumah.

Tanpa mengulur waktu aku langsung keluar gudang menuju kelas untuk mengambil tas.Aku sedih sesedihanya dengan kejadian barusan,aku tidak kuat selalu menjadi bahan kejahilan teman disekolah tapi aku juga tidak berani menceritakan kejahilan mereka.

Aku tidak langsung pulang ke rumah,langkah ini ingin menuju danau DTS (dendam tak sudah) untuk menyendiri, karena ini hidupku maka aturanku yang berlaku.Sesampainya didanau DTS seperti biasa aku langsung duduk diatas batu besar dipinggiran danau,tatapan ku kosong menatap kejauhan aku masih resah malam ini.

“Hai kamu sedang apa?”

Suara yang disertai sentuhan dingin dipundakku,membuat aku kaget hingga membuyarkan lamunan dan langsung menoleh kebelakang,ternyata sapaan itu berasal dari wanita berumur 20 an yang cukup cantik mengenakan pakaian mode sekitar tahun 80 an.Wajah wanita itu cantik berambut lurus panjang namun yang aneh adalah kulitnya pucat.Aku masih saja diam terpaku memandang wanita yang mempunyai kerlipan mata seindah kerlipan bintang,dengan senyum lengkungan bulan,seakan wajahnya mengelitik mata untuk terpana.

Wanita itu melirikku dan aku kaget menjadi salah tingkah.

“:Maaf kak aku tadi sempat diam tak menjawab pertanyaan kakak”jawabku disertai malu.
“Iya gak apa-apa dek,aku juga yang salah menyapamu sekaligus mengkagetkanmu” jawab wanita itu .

Mataku mulai merasa sangat janggal melihat penampilan wanita didepanku,sungguh aneh sekarang itu tahun 2008 namun wanita itu memakai pakaian seperti tahun 80 an,kutepis pemikiran kejanggalan itu.Aku bahagia ternyata juga ada orang yang suka menyendiri dimalam hari bermandikan sunyi.

“Kamu kenapa sendirian di pinggir danau?,kamu tidak takut?.Kata orang,disini tempat yang angker loh.”Tanya wanita itu bersama senyumanya.
“Uda deh jangan nakut-nakutin,aku tidak takut sama begituan.Untuk apa aku takut kak sedangkan disini aku bisa melupakan beban  dan sedihku yang bisa membuatku bahagiaJ .Bahagia itu tidak membutuhkan persyaratan,jika aku bahagia ya akan kulanjutkan.”

Wanita itu lalu duduk disebelah kiriku,aku sebenarnya mencium aroma melati disekitar wanita itu ,tetap tak kupeduli hidungku.Pembiacaraan kami semakin larut dan berkembang,aku ceritakan semua keluh,kesah,gundaku.Padahal baru pertama  kali aku bertemu wanita itu namun miliaran ketenangan seperti menghampiriku,nyaman bertambah lagi kebahagianku setelah sepi menjadi tokoh pemeran utama kebahagian ,sekarang melepaskan cerita ke wanita yang diakui bernama Ratih itu menjadi tokoh peran kedua bahagiaku.

Malam demi malamku semenjak itu ditaburi kasih ,hampir setiap malam aku bercerita dengan Ratih tentang kejadian apa saja ku alami di siang hari.Aku bisa bebas berbicara meski kadang tak terarah.Aku mulai sibuk mengatur waktu,bagaimana mengatur porsi yang tepat antara bahagia,kesal,senyum,dan nyaman dengannya tanpa pernah dia menyanggah pembicaraanku.Sepertinya rasa nyamanku bersama Ratih menjadi gerbang awal masuknya sebuah perasaan,aku tetap santai , tak perlu rumit memaknai perasaan. Rasakan secukupnya. Pada akhirnya, cinta tak pernah salah mengenali aromanya.Dan aku menunggu untuk mengungkapkan itu.


Kedua orang tuaku curiga akan tingkah laku ku yang menurut kabar mereka dapatkan,aku sering pulang dini hari kerumah.Hingga akhirnya mereka mengikuti langkah kakiku tanpa kuketahui layaknya detektif , mencari tau hal apa yang aku lakukan.Malam menabur bintang berkelip berurutan,bulan tersenyum melengkung menemani malam,aku ingin bertemu Ratih malam ini mau bercerita tentang kebinggunganku disekolah hari ini.

Kupandangi bayangan daun yang menari ,kudengar dentuman suara jangkrik ,dan tak kuhiraukan gigitan vampire kecil penghisap darah berlabuh dikulitku.Kutunggu Ratih hingga akhirnya kudengar sapaannya malam ini.
 “Anak kecil uda datang ya,kamu rindu aku sepertinya” Senyum kecil Ratih bersumringah

“AKu binggung kak Ratih,besok malam aku dan lima temanku mendapat giliran menjaga panggung PENSI (pentas seni) disekolah.Aku takut karena ke Lima siswa yang mendapat giliran menjaga panggung PENSI selain aku adalah Satrio dan para sahabatnya.Aku takut Satrio dan sahabatnya menjahili aku lagi”

“HIHIIHIHI” suara  tertawa Ratih mengema malam.Aku cukup takut merinding mendengar gelak tawa itu namun kebersamaanku dengan Ratih  jauh menimbun ketakutanku.

“Kamu ikut aja menjaga panggung PENSI itu,Besok malam adalah giliranmu yang menjahili mereka “ungkap Ratih

Setelah banyak berbincang waktu seakan cepat berlalu,andai saja waktu dapat kuhentikan saatku berada bersamamu Ratih.Aku langsung pulang kerumah,namun tanpa kusadari keduaorang tuaku dari tadi memperhatikanku dipinggiran danau. Dan seperti biasa Setelah berpamitan pulang dengan kak Ratih ,tujuh langkah aku menjauh tiba-tiba Ratih hilang begitu saja tak terjangkau mata,aku ingin sekali memperdebatkan hal itu dengan logika namun akhirnya tak pernah ku lakukan perdebatan itu.

Malam giliran ku dan ke enam siswa lainnya menginap disekolah untuk menjaga panggung PENSI tiba.aku sedikit ragu dengan kak Ratih yang akan menggerjai mereka ,ragu itu hilang saat kak ratih muncul ketika aku keluar dari toilet.

“Kak Ratih kok tau aku disini”
“Tidak penting!, yang terpenting sekarang kamu lihat saja dari jendela kelas ,karena sebentar lagi aku akan mengerjai mereka (Satrio cs)”

“Oke kak” jawabku yang sebenarnya masih penuh tanda Tanya bagaimana kak Ratih bisa menemui keberadaan kami.

Kulihat diam-diam tanpa bersuara dari jendela saat teman-temanku duduk bercengkrama.Tiba-tiba kak Ratih muncul dari salah satu sudut ruangan telah berganti pakaian,bagaikan terbang dia duduk dipojok bangku sudut kanan ruangan sambil mengeluarkan gelak tawa yang sangat menyeramkan.Tubuh kak Ratih diselimutin darah segar ,hidungnya tak henti mengeluarkan darah ,kulitnya lebam biru seperti habis lama berrendam dia air ,dengan rambut yang terurai panjang .Kulihat Satrio dan ke empat temanku bergetar hebat,teman-temanku saling memandang bermandikan keringat dingin dan saat kak Ratih tertawa lepas menyeramkan Satrio dan teman-temanku pingsan,dan aku masih menatap terpaku kejadian itu hingga aku masuk keruangan dan mencari kak Ratih yang telah menghilang , aku pun tertidur bersama pingsannya Satrio cs.

Keesokan harinya sekolah heboh ,karena kejadian semalam .Sekolah berinisiatif mendatangkan ustad .Aku tertawa dalam hati
 “Ahh masa’ pakai acara panggil-panggil ustad segala,emang kak Ratih hantu apa?.Kak Ratih memang hebat ber akting! “hati ku berbicara
Ustad menyuruh kami berkumpul malam nanti untuk mengadakan pengajian di sekolah ,memohon pada sang illahi agar sekolah kami dijauhkan dari segala kelakuan jahat makhluk manapun.setelah pengajian itu dimalam-malamku sekarang menjadi sepi aku tidak mengerti kenapa bisa terjadi,kak Ratih tidak pernah muncul lagi menemani sepiku dipinggir danau. Saat menunggu, waktu terasa lebih lambat melakukan tugasnya untuk membuat perih semakin pedih.

Aku selalu menunggu Ratih disetiap malam, Belum mampu untuk lupa. Sebagaimana kerinduan yang tak pernah bosan untuk singgah dalam setiap lamunan tentangmu. Aku selalu duduk di sudut batu. Meraba desau angin yang berdesir lirih.hanyut dalam magisnya keheningan. Pelan-pelan kerinduan merengkuh hati dalam-dalam. Menghadirkan perih pedih rasa yang telah lama ditinggalkan. Didalam Usang mendamba yang terlupakan. rindu bertindak jahatnya.aku terhujam olehnya. Jatuh bersimbah air mata yang mengalir bagaikan hujan.

Aku masih menunggumu,menatap sorot mata teduhmu,dan bercerita tantang kelakuanku.Menunggu tidak membosankan tapi penuh harapan yang sering memunculkan kekecewaanTiga bulan telah berlalu,hidupku semakin kacau tanpamu,aku jarang masuk sekolah karena aku lebih memilih menunggumu dipinggir danau.Ratih aku masih menunggu,mendekatlah.Mari kita melangkah memungut bintang,lalu mengasuhnya hingga tumbuh menjadi gerhana.

Hingga disuatu malam jumat saat aku duduk termenggu menatap arah horizontal,Ratih datang menemuiku dengan wujud yang menyeramkan seperti yang aku lihat saat ia menakut-nakuti Satrio dan teman-temannya.Pucat fasih mukanya ,hidung terua tak henti mengeluarkan darah segar,kulit tubuhnya seperti lembek ingin mengelupas,rambut yang terurai dan baju yang lusuh.Kedatangan nya pun disambut angin merdu beraroma bunga melati.

Tubuhku seketika kaku ,dan jantung seakan semakin berpacu cepat mau copot,aku bergemetaran tidak dapat berkata-kata,hanya terpaku menatap sosok RAtih.Pelan-pelan ku eja kata menjadi kalimat mencoba berbicara dengan Ratih.

“Ratih..?” ku ucapkan namanya sambil menarik nafas yang dalam agar ketakutanku hilang.
“Geri inilah sebenarnya diriku,kita berada di dunia yang berbeda,aku mungkin menyeramkan tapi aku tidak ingin menakutimu’

Aku kembali diam masih tidak percaya,ku tatap ratih hingga tanpa isyarat bibirku berucap “Ratih sungguh sejujurnya aku takut melihat keadaan rupamu namun sepertinya rasa takutku masih kalah besar dari rasa suka dan cintaku.sekarang adalah waktu yang tepat untuk aku mengungkapan rasa”


“Kita harus menjauh Geri!! Andaikan kita tercipta dari 1 dunia tentu kita tidak akan seperti ini dan pasti kita akan menjalani hari bersama untuk bahagia.Tapi Aku dan Kamu berbeda ingat kita tidak boleh melanggar kodrat Tuhan”Jawab Ratih

“Aku cinta kamu Ratih,tanpa bersumber dari fisik ataupun dunia kita yang berbeda,aku mencintai kamu karena terbiasa bersamamu”


Terlalu indah terlalu bahagia.siapa sangka,aku telah membiarkan diri tersesat disini,menikmati perasaan yang tidak tertandingi.

Setelah ungkapan itu Ratih hanya diam,ada air yang meleleh dari matanya mulai menggarisi pipi yang pucat pasih,Aku tidak tau apakah itu air mata kesedihan ataukah hanya airmata yang keluar layaknya hantu menakuti ,lalu aku mendekatinya berhenti berbicara.Diam-diam,mataku mulai basah.binggung harus menyikapi perasaan ini dengan cara apa, lalu mataku terpejam disampingnya.

Sudah tiga hari aku menghilang dari rumah,kedua orang tuaku mencari keberadaanku hingga akhirnya meminta bantuan ustad karena dulu saat mengikuti langkahku di danau ada kecurigaan yang menggangu pikiran mereka,aku terlihat berbicara sendiri waktu itu.Ada gaib yang ikut bermain dalam kejadian ini bagi mereka,Aku ditemukan tertidur sendirian dipinggir danau..Saat aku tersadar tubuhku sudah ada dirumah sakit,kudengar sayup-sayup kedua orang tuaku berbincang dengan ustad diluar kamar rawatku.

“Saya sudah menutup mata batinya Pak,Buk ,kemungkinan dia tidak akan pernah bertemu mahkluk itu lagi”
“Iya terima kasih Pak Ustad,kami juga mulai curiga dengan tingkah Geri diluar kewajaran saat di pinggir Danau,ia terlihat asik berbicara sendiri.Rencananya kami akan memindahkan sekolahnya di Jakarta”
“Itu ide yang bagus Pak,semoga dia bisa melupakan semua kejadian disini ,amin”

Tak terasa air mataku terjatuh mendengar percakapan itu,Aku sadar aku tidak akan pernah menyatu dengan ratih dan mulai saat itu aku bisa menerima keadaan kehidupanku.Pada akhirnya,senja terlahap gelap meninggalkan segala cerita yang larut bersama kelamItulah kisahku kalian bisa menyapaku di @suparmaaan ,sekarang kehidupanku kulalui disalah satu Universitas Negeri di Depok.

Ratih telah menjadi cerita urban legend Danau Dendam Tak Sudah di Bengkulu ,Ia adalah sesosok hantu wanita yang digambarkan meninggal karena dibunuh dan mayat nya dibuang di danau DTS tahun 80 an

Aku mengenangnya. Belum mampu untuk lupa. kerinduan yang tak pernah bosan untuk singgah dalam setiap lamunan

Rinduku berlirih sayup-sayup memanggilmu dalam mimpi aku yang terlanjur mencintaimu tanpa logika bukan cinta jenaka yang layak ditertawakan ,aku tulus ini cinta dengan hati.Mataku berkabut bukan sendu mungkin ini tanda jjika rindu tlah berselimut debu,rindu yang tak pernah menyusut dan diratapi. Ditemani mimpi yang tersisa akan selalu merindu Ratih!

Ini seperti fiksi namun ini sungguh terjadi.....

Cara melihat hantu,
pukul 23.00 duduklah bersila menghadap utara,memejamkan mata sambil mengatakan lengser wengi 7x.Ikuti saja jika ingin membuktikan.

3 komentar:

  1. serem kalo nyata, soalnya ada juga yang bilang di depan rumahku ada hantunya. hiyy, mending ga tau aja deh. >.<

    BalasHapus
  2. Emg beneran bisa liat hantu cuma dg gitu aja?

    BalasHapus
  3. Emg beneran bisa liat hantu cuma dg gitu aja?

    BalasHapus